Gelanggang
Majalah budaya permainan, olahraga, dan hiburan
Sejarah

Bagaimana 52 kartu sampai ke tangan kita: jejak dari Tiongkok, Mesir Mamluk, sampai Eropa

Setumpuk kartu remi menyimpan sidik jari empat peradaban. Menelusuri dari mana angka 52, empat jenis kartu, dan sosok raja-ratu-jack itu sebenarnya berasal.

Kalau Anda pegang satu kartu remi sekarang — katakanlah jack keriting — Anda sedang memegang benda yang tak satu pun bagiannya berasal dari satu tempat. Angka di sudutnya adalah gagasan Eropa abad kesembilan belas. Sosok tokohnya keturunan kartu istana Prancis. Empat jenisnya adalah cucu dari empat lambang Mesir. Dan gagasan mencetak gambar berulang di atas kertas untuk dimainkan? Itu lahir di Tiongkok, ribuan kilometer dan beberapa abad sebelumnya. Setumpuk kartu adalah salah satu benda paling kosmopolitan yang rutin kita sentuh tanpa sadar.

Kertas, cetak, dan permainan pertama

Cerita ini bermula di tempat yang masuk akal: negeri yang menemukan kertas dan pencetakan. Catatan paling awal tentang permainan berbasis lembaran dijumpai di Tiongkok era Dinasti Tang, sekitar abad kesembilan. Kartu-kartu Tiongkok awal berkaitan erat dengan uang — sebagiannya berupa “kartu uang” dengan lambang koin, tali koin, dan puluhan ribu — sehingga permainan kartu dan gagasan nilai bertingkat tumbuh berdampingan sejak awal. Yang menyeberang ke barat bukan permainan spesifiknya, melainkan idenya: bahwa selembar kecil bergambar bisa menyimpan sebuah nilai dan diadu dengan lembar lain.

Kartu yang menjembatani dua dunia

Mata rantai yang paling menentukan wujud kartu modern justru bukan Tiongkok maupun Eropa, melainkan dunia Islam abad pertengahan. Di Istana Topkapı, Istanbul, tersimpan satu set kartu Mamluk dari sekitar abad kelima belas — artefak berharga karena ia hampir utuh dan memperlihatkan struktur yang mengejutkan familiar. Set Mamluk terdiri atas empat jenis: cangkir, koin, pedang, dan tongkat polo. Tiap jenis punya sepuluh kartu bernomor dan tiga kartu istana: malik (raja), na’ib malik (wakil raja), dan na’ib kedua. Empat jenis, kartu bernomor, plus kartu tokoh — kerangka dek modern sudah lengkap di sini.

Karena Islam pada masa itu menghindari penggambaran sosok manusia, kartu istana Mamluk menampilkan kaligrafi dan ornamen alih-alih wajah. Ketika kartu-kartu ini masuk ke Eropa lewat pedagang di sekitar Laut Tengah pada akhir abad keempat belas, orang Eropa mempertahankan strukturnya tetapi menambahkan sesuatu yang khas mereka: gambar manusia. Wakil-wakil raja berubah menjadi tokoh berwajah, dan dari situlah raja, ratu, dan jack yang kita kenal lahir.

Empat jenis yang bercabang di tiap negeri

Begitu berada di tangan Eropa, empat lambang Mamluk bermutasi mengikuti selera lokal, dan percabangan inilah kenapa kartu Italia tampak berbeda dari kartu Jerman atau Prancis. Lambang koin, cangkir, pedang, dan tongkat bertahan hampir apa adanya di Italia dan Spanyol. Di Jerman, mereka bergeser menjadi hati, lonceng, daun, dan biji ek. Barulah orang Prancis, pada akhir abad kelima belas, menyederhanakan semuanya menjadi empat bentuk yang mudah dicetak dengan stensil dan hanya butuh dua warna: cœur (hati), carreau (wajik), trèfle (keriting), dan pique (sekop).

Penyederhanaan Prancis itu keputusan teknologi, bukan sekadar estetika. Bentuk-bentuk merah-hitam yang sederhana bisa dicetak murah dan cepat, sehingga dek gaya Prancis unggul secara produksi dan menyebar ke seantero dunia berbahasa Inggris. Kartu yang mayoritas kita pakai hari ini menang bukan karena paling indah, melainkan karena paling ekonomis diproduksi massal — sebuah pengingat bahwa standar sering ditentukan oleh mesin cetak, bukan istana.

Kenapa akhirnya berhenti di angka 52

Susunan 52 kartu — empat jenis dikali tiga belas peringkat (as sampai sepuluh, ditambah jack, ratu, raja) — bukan angka keramat, melainkan hasil pemangkasan. Beberapa tradisi awal punya empat kartu istana per jenis, bukan tiga; dek Italia Tarot bahkan menambahkan satu seri kartu bergambar tersendiri. Yang bertahan di dunia berbahasa Inggris adalah versi ramping tiga belas peringkat, yang kebetulan menghasilkan angka-angka rapi: 52 kartu, mendekati jumlah pekan dalam setahun; empat jenis, seperti empat musim; tiga belas peringkat, seperti jumlah pekan dalam satu musim. Kesejajaran ini sering dikutip seolah kartu dirancang sebagai kalender — padahal urutannya terbalik. Angka-angka itu adalah kebetulan yang dirapikan belakangan, bukan cetak biru; dek berevolusi karena praktis, lalu kesejajaran kalendernya ditemukan sebagai bonus yang enak diceritakan.

Yang tidak kebetulan adalah betapa bergunanya angka 52 bagi matematika peluang. Karena setiap kartu unik dan jumlahnya pasti, sebuah dek adalah laboratorium probabilitas yang sempurna: peluang mengambil satu jenis tertentu tepat 13/52, peluang mendapat pasangan bisa dihitung persis, dan seluruh permainan berbasis kartu bisa diturunkan angka-angkanya tanpa satu pun asumsi tersembunyi. Bukan kebetulan bahwa banyak persoalan awal dalam teori peluang abad ketujuh belas berkutat pada kartu dan dadu — keduanya adalah sistem tertutup yang jujur, tempat setiap kemungkinan bisa dihitung dari awal.

Joker: kartu ke-53 yang lahir di Amerika

Kalau 52 adalah angka yang mapan, dari mana datangnya dua kartu joker yang membuat dek modern kerap berisi 54 lembar? Ini justru bagian termuda dari cerita, dan satu-satunya sumbangan Amerika pada struktur dek. Joker lahir pada pertengahan abad kesembilan belas di Amerika Serikat, diciptakan khusus untuk sebuah permainan bernama euchre yang membutuhkan kartu truf tertinggi tambahan. Ia bukan warisan Mamluk, bukan pula tarot — meski sering dikelirukan dengan kartu “The Fool” dalam tarot, keduanya tak berhubungan secara historis.

Yang menarik dari joker adalah statusnya yang mengambang: ia kartu tanpa jenis, tanpa peringkat tetap, yang maknanya berubah menurut permainan. Dalam banyak permainan ia diabaikan sepenuhnya; dalam yang lain ia menjadi kartu paling kuat atau kartu liar yang bisa menjadi apa saja. Keluwesan itu membuatnya bertahan meski tak punya tempat dalam struktur 52 kartu yang rapi. Ia adalah pengingat bahwa dek pun tetap berevolusi: bahkan setelah “distandarkan”, orang masih menambahkan lembar baru ketika sebuah permainan menuntutnya.

Meluruskan mitos tarot

Ada satu kekeliruan sejarah yang begitu populer sampai layak diluruskan di sini: gagasan bahwa kartu tarot adalah nenek moyang kuno kartu remi, penuh makna mistik, yang belakangan “disederhanakan” menjadi dek main biasa. Urutannya justru terbalik. Kartu remi bermuka empat jenis sudah beredar di Eropa lebih dulu; tarot muncul kemudian, pada abad kelima belas di Italia utara, sebagai penambahan satu seri kartu bergambar (kelak disebut arcana mayor) ke atas dek yang sudah ada, untuk sebuah permainan tangkas bernama tarocchi. Selama berabad-abad, tarot adalah permainan kartu biasa — bukan alat ramal.

Kaitan tarot dengan peramalan baru menempel jauh belakangan, sekitar abad kedelapan belas, ketika sejumlah penulis okultis menafsir ulang gambar-gambarnya sebagai simbol esoteris dan mengarang asal-usul Mesir kuno yang tak berdasar bukti. Dengan kata lain, “makna mistik tua” tarot sebenarnya lebih muda daripada permainannya, dan jauh lebih muda daripada dek remi biasa. Ini contoh bagus bagaimana sejarah sebuah benda sering ditulis ulang ke belakang — kita memberi objek masa lalu makna yang sesungguhnya baru kita lekatkan kemudian.

Kenapa punggung kartu selalu bermotif

Detail kecil yang jarang dipikirkan menyimpan logika permainan yang dalam: mengapa punggung kartu selalu bermotif rumit dan simetris, bukan polos? Jawabannya adalah soal keadilan informasi. Bila punggung kartu polos atau motifnya tak simetris, noda, lipatan, atau arah gambar sekecil apa pun bisa menjadi penanda yang memberi tahu pemain licik kartu apa yang sedang dihadapi lawan. Motif yang padat, berulang, dan simetris ke segala arah menyembunyikan cacat semacam itu dan membuat tiap kartu tampak identik dari belakang — menjaga agar informasi tersembunyi tetap benar-benar tersembunyi. Standarisasi punggung kartu, seperti standarisasi bentuk dadu, adalah teknologi diam-diam untuk menegakkan permainan yang adil: memastikan bahwa satu-satunya cara mengetahui isi sebuah kartu adalah membaliknya.

Sidik jari empat peradaban

Maka lain kali sebuah dek dikocok di depan Anda, ada baiknya diingat apa yang sebenarnya berpindah tangan. Gagasan lembar bernilai dari Tiongkok; struktur empat jenis dan kartu istana dari Mamluk Mesir; wajah para tokoh dari Eropa; dan bentuk merah-hitam yang mudah dicetak dari Prancis. Tak ada satu penemu, tak ada satu tahun kelahiran. Kartu remi adalah benda yang dibuat bersama oleh peradaban-peradaban yang tak pernah duduk di meja yang sama — dan tetap, entah bagaimana, sepakat pada empat jenis dan lima puluh dua lembar.

Sumber

  1. The Metropolitan Museum of Art — 'The World in Play', sejarah kartu permainan mewah Eropa awal
  2. Playing card — History (Wikipedia) — ringkasan bukti kartu dari Tiongkok Dinasti Tang hingga standar 52 kartu
  3. Topkapı Palace Museum, Istanbul — set kartu Mamluk abad ke-15, artefak yang menjembatani kartu Islam dan Eropa